Header Ads

Perbedaan Alergi dan Intoleransi Makanan


JavaMagazine - Banyak cara tubuh merespon sesuatu yang masuk ke dalamnya. Anda mungkin pernah mengalami sakit perut saat mengonsumsi makanan tertentu. Anda mungkin bertanya-tanya, apakah ini alergi makanan atau ntoleransi makanan? 


Baik alergi dan intoleransi memiliki perbedaan mendasar. Penting untuk mengetahui perbedaan antara alergi makanan dan intoleransi makanan. Mengetahui perbedaan antara kedua kondisi kesehatan ini dan memahami kerentanan Anda sendiri terhadap alergen dan iritasi potensial.

Dengan mengetahui apakah Anda mengalami alergi atau intoleransi, Anda dapat membuat pilihan makanan yang lebih baik dan merasa lebih nyaman selama dan setelah makan. Meskipun mereka mungkin memiliki gejala yang sama, keduanya memiliki tingkat penanganan dan keparahannya masing-masing.

Baik alergi dan intoleransi pun terkadang juga menimbulkan gejala yang berbeda. Agar tak keliru lagi, berikut perbedaan alergi dan intoleransi makanan yang berhasil JavaMagazine rangkum dari berbagai sumber, Senin(7/10/2019).

Alergi Makanan memengaruhi Sistem Kekebalan Tubuh

Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh, yang biasanya melawan infeksi, melihat makanan sebagai penyerang. Alergi makanan ditandai oleh respons imun terhadap protein dalam makanan. Sistem kekebalan tubuh beralih ke mode pertahanan dan mulai melawan protein yang dianggap berbahaya.

Ini mengarah pada respons dari sistem kekebalan tubuh di mana bahan kimia seperti histamin dilepaskan dalam tubuh. Reaksi dapat menyebabkan gejala seperti masalah pernapasan, sesak tenggorokan, suara serak, batuk, muntah, sakit perut, gatal-gatal, bengkak, atau penurunan tekanan darah.

Banyak dari gejala-gejala ini dapat membuat Anda merasa sakit tetapi mengalaminya tidak cukup untuk mendiagnosis alergi makanan. Faktanya, alergi makanan hanya dapat didiagnosis oleh dokter yang merupakan ahli alergi bersertifikat.

Ahli alergi menggunakan sejumlah teknik untuk mendiagnosis alergi makanan yang sebenarnya. Diagnosis ini dapat mencakup riwayat medis, tantangan makanan oral, tes tusuk kulit, dan tes darah.

Dalam beberapa kasus, reaksi alergi pada makanan bisa parah atau mengancam jiwa. Sebaliknya, gejala intoleransi makanan umumnya kurang serius dan sering terbatas pada masalah pencernaan.


Intoleransi makanan memengaruhi sistem pencernaan

Intoleransi makanan hanya terjadi dalam sistem pencernaan tubuh. Intoleransi makanan berarti tubuh tidak dapat mencerna makanan yang dimakan dengan benar, atau makanan tertentu dapat mengiritasi sistem pencernaan.

Intoleransi terhadap makanan dapat terjadi ketika tubuh kita kekurangan protein spesifik yang dibutuhkan untuk memecah makanan tertentu. Intoleransi juga dapat terjadi ketika komponen makanan menyebabkan iritasi dalam sistem pencernaan.

Gejala intoleransi makanan dapat termasuk sakit kepala, mual, sakit perut, diare dan muntah. Sementara gejala-gejala ini mungkin mirip dengan alergi makanan, perbedaan utama adalah bahwa intoleransi makanan tidak menyebabkan anafilaksis. Anafilaksis adalah suatu reaksi alergi berat yang terjadi secara tiba-tiba dan dapat menyebabkan kematian.

Intoleransi makanan yang paling umum dikenal adalah intoleransi laktosa. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya laktase, protein yang dibutuhkan untuk mencerna gula susu laktosa.

Perbedaan gejala alergi dan intoleransi

Alergi

Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengira sesuatu dalam makanan berbahaya dan menyerang. Ini dapat mempengaruhi seluruh tubuh, bukan hanya perut. Gejala mungkin termasuk:
- Ruam, gatal-gatal, atau kulit gatal
- Sesak napas
- Sakit dada
- Tiba-tiba tekanan darah turun, kesulitan menelan atau bernapas. Gejala ini dapat mengancam jiwa.


Intoleransi

Ketika makanan mengiritasi perut atau tubuh tidak dapat mencernanya dengan benar, itu adalah intoleransi. Gejalanya dapat meliputi:
- Gas, kram, atau kembung
- Mulas
- Sakit kepala
- Lekas marah atau gugup

Faktor Pemicu Alergi

Ada delapan makanan yang menyumbang 90 persen dari reaksi alergi terhadap makanan. Ini meliputi susu, telur, ikan, kerang, kacang -kacangan, kacang pohon (seperti kenari, pecan, dan almond), gandumdan kedelai.

Reaksi dapat menyebabkan gejala seperti masalah pernapasan, sesak tenggorokan, suara serak, batuk, muntah, sakit perut, gatal-gatal, bengkak, atau penurunan tekanan darah.

Pemicu Intoleransi

Sementara pada intoleransi, yang paling umum adalah intoleransi laktosa. Itu terjadi ketika orang tidak bisa mencerna laktosa, gula yang ditemukan dalam susu dan produknya. Jenis intoleransi lainnya adalah sensitif terhadap sulfit atau zat tambahan makanan lainnya.

Sulfit dapat memicu serangan asma pada beberapa orang. Beberapa makanan juga dapat memicu intoleransi seperti gluten, kafein, salisilat, amina, FODMAPs, dan frukosa.

Penyebab intoleransi makanan juga dapat termasuk sindrom iritasi usus, sensitif terhadap aditif makanan, stres berulang atau faktor psikologis, dan penyakit celiac. Kondisi pencernaan kronis ini dipicu oleh makan gluten, protein yang ditemukan dalam gandum dan biji-bijian lainnya.



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.