Header Ads

Tradisi Seks yang Unik dari Seluruh Dunia


JavaMagazine.co.id - Sangat menarik dan menakjubkan, apabila kita membicarakan budaya uang ada di belahan dunia ini. Berbagai peristiwa kehidupan mempunyai keunikannya sendiri, setiap detik dan setiap tempat maupun bangsa benar-benar menarik untuk disimak.

Mari kita bersama-sama menyimak tradisi Seks dan Perkawinan di belahan dunia ini yang benar-benar unik.

1. The Sambians : Suku Peminum Air Mani

Sebagai laki-laki yang tumbuh dewasa dari Suku Sambia di Papua Nugini, maka minum air mani laki-laki lain adalah sebuah ritual wajib. Ritual ini dimulai ketika mereka berusia 6-7 tahun, dan ini akan berlangsung sampai mereka punya anak. Ketika waktu ritual tiba, maka para anak laki-laki ini akan mulai hidup terpisah dari ibunya dan tinggal di sebuah gubuk yang semua penghuninya adalah laki-laki.
Ritual dimulai dengan mengeluarkan darah dari hidung. Caranya dengan menusukkan kayu atau rumput yang runcing ke hidung sampai darah mengalir. Begitu para tetua melihat darah keluar, para lelaki dewasa yang ada dalam gubuk akan menangis bersama-sama. Setelah itu, anak-anak yang menjalani ritual bakal dicambuk atau dipukuli. Tujuannya untuk menguatkan dan mempersiapkan mereka menjadi prajurit.
Ritual berikutnya adalah meminum air mani pria dewasa. Suku Sambia yakin laki-laki dan perempuan dilahirkan dengan tingu, bagian tubuh yang berfungsi sebagai prokreasi. Saat lahir, tingu anak laki-laki dipercaya layu dan kering. Dan satu-satunya cara untuk mengisinya kembali adalah dengan meminum air mani orang lain.
‘Sumber’ air mani ini adalah laki-laki lain berusia 13-21 tahun dan belum menikah. Anak yang sedang menjalani ritual didorong untuk meminum sebanyak mungkin air mani sehingga tubuh jadi kuat. Pada usia 13 tahun, saat memasuki masa pubertas, ritual tadi kembali dilakukan. Kali ini, merekalah yang jadi ‘sumber’ air mani bagi laki-laki yang lebih kecil.
Di usia 20 tahun, para laki-laki suku Sambia akan menikah. Sebelumnya, para tetua suku akan mengajarkan para lelaki muda ini cara melindungi diri dari ketidakmurnian perempuan. Salah satu caranya adalah mandi lumpur setelah berhubungan intim untuk membersihkan kotoran yang ditularkan istrinya.
Ritual inisasi kedewasaan ini baru akan berakhir ketika seorang laki-laki menjadi ayah. Setelah sang istri melahirkan, mereka dianggap memiliki hak penuh atas maskulinitas. Asal tahu saja, para laki-laki Sambia tidak banyak menghabiskan waktu bersama istri mereka, tapi lebih banyak dengan laki-laki lain dari suku tersebut.

2. The Mardudjara : Pemotongan Organ Intim

 
Tradisi terpenting dari suku Mardudjara Aborigin di Australia ini bisa dibilang cukup mengerikan. Mereka melakukan sunat barbar terhadap organ intim para pria di sana dalam keadaan sadar dan kulit kemaluan itu harus dimakan oleh pria yang menjalani sunat.

Setelah bekas sunat mengering, kemaluan mereka dipotong memanjang hanya di bagian bawah mulai dari ujung penis hingga bagian skrotum. Darah yang menetes harus terbakar oleh api di bawahnya. Di kemudian hari mereka bakal buang air kecil dari bagian bawah organ intim dan bukan lewat ureta atau saluran pembuangan.

3. The Trobrianders : Berhubungan Seks Saat Muda


Suku primitif di pedalaman Papua Nugini ini tampaknya bisa menjadi studi kasus dalam konsekuensi revolusi seksual. Bagaimana tidak, anak-anak di sana memulai berhubungan seksual pada usia 6-8 tahun untuk wanita dan 10-12 tahun untuk pria tanpa stigma sosial. Tradisi ini sudah menjadi hal yang terjadi di suku tersebut dan tak ayal sebagai pemicu berkembangnya penyakit AIDS secara mengerikan di pedalaman Papua.

4. Saut d’Eau : Ritual Voodoo dan Cinta


Jika kamu bepergian ke Haiti dan mengunjungi air terjun Saut d’Eau di bulan Juli, maka kamu akan melihat ritual yang cukup cabul. Kalau kamu berpikir bahwa praktisi Voodoo akan melakukan persembahan untuk dewi cinta dengan cara normal maka itu salah. Akan ada sekelompok orang telanjang yang memutar dan menggeliat di dalam lumpur yang bercampur dengan darah hewan kurban seperti kepala sapi dan kambing.

5. The Nepalese: Berbagi Istri

 
Secara tradisional, warga Upper Dolpa merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang membuka jalan antara Nepal dan Tibet. Saat ini mereka masih mengikuti tradisi menggiring yak yang membawa garam dari Tibet dan beras dari dataran Terai.
Dengan minimnya sumber daya alam, masyarakat Upper Dolpa tidak memiliki banyak harta. Namun, praktik poliandri itu bisa mencegah pembagian harta di antara keluarga. Persediaan makanan pun cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sebagian besar pernikahan di kawasan itu sudah diatur keluarga. Sebuah keluarga akan memilih istri untuk anak lelaki tertua mereka dan memberi kesempatan adik-adiknya untuk menikahi perempuan yang sama di kemudian hari.
Namun, kini praktik poliandri itu mulai terkikis sebab masyarakat di sana mulai terbuka pada kehidupan yang modern. Kini praktik yang sudah berlangsung seabad itu bertahan hanya di desa-desa terpencil di Himalaya.

6. The Wodaabee: Mencuri Istri Orang


Suku Wodaabe di Nigeria, Afrika Barat dikenal dengan para pria yang suka mencuri istri orang lain. Di mana pernikahan pertama diatur oleh orang tua ketika mereka masih bayi dan harus antara garis keturunan yang sama. Namun di festival tahunan Gerewol, pria Wodaabe memakai make up dan kostum lalu menari untuk mengesankan para wanita serta mencuri istri baru. Jika seorang pria mampu mencuri istri dan tak terdeteksi (terutama dari sang suami yang tak ingin berpisah), maka mereka diakui secara sosial dan disebut menjalani pernikahan atas dasar cinta.

7. Adegan Seksual Publik


Menurut Sex and Society, ada yang menyebutkan bahwa pasang surut aliran sungai Nil di Mesir dianggap disebabkan oleh ejakulasi Atum (Dewa Penciptaan). Konsep ini memacu banyak raja-raja Mesir kuno yang melakukan ritual masturbasi ke sungai Nil untuk menjamin kelimpahan air. Karena terinspirasi dengan tindakan itu, maka pria-pria Mesir kuno melakukan festival Dewa Min (dewi kesuburan) untuk menirunya sebagai simbol keampuhan daya bercinta Firaun.

8. Tradisi Homoseksual


Kasus homoseksual yang akhir-akhir ini menjadi salah satu problematika besar dan nyata di kehidupan masyarakat modern, sepertinya sudah dikenal lebih dulu oleh bangsa Yunani kuno. Di mana mereka tidak membedakan hasrat seksual oleh jenis kelamin namun lebih menekankan pada peran yang dilakukan oleh orang per-orang di sana. Bangsa Yunani kuno percaya saat itu, bahwa mereka yang lebih aktif (tak peduli dengan siapa) akan mendapat status sosial lebih tinggi serta sebaliknya untuk yang pasif lebih rendah.

9. Pederasty Love

 
Salah satu praktek seksual kontroversial lainnya di Yunani kuno adalah paiderastia, di mana seorang laki-laki tua dan seorang pemuda remaja terlibat dalam sebuah hubungan. Yunani kuno sudah mempraktekkan hubungan itu bahkan mendapat restu dari masyarakat. Di Ibu Kota Athena, percintaan antara lelaki dewasa dengan anak-anak berjenis kelamin sama merupakan tanda cinta terdalam dan hubungan itu berakhir jika si anak, biasa disebut eromenos, telah dewasa dengan tanda-tanda fisik terlihat seperti pertumbuhan kumis dan janggut. 
Lelaki dewasa biasa disebut erastes harus memberikan pendidikan, perlindungan, cinta, dan menyediakan kebutuhan pasangannya. Sementara Eromenos mempersembahkan keindahan, kemudaan, dan layanan cinta.

10. Membayar Pernikahan Sementara

 
Di negara seperti Iran, ada kondisi ketika pasangan muda yang ingin berhubungan seks namun belum menikah bisa meminta pernikahan sementara. Mereka diperbolehkan membayar sejumlah uang untuk upacara singkat dengan kontrak tertulis mengenai waktu yang diinginkan tanpa bertentangan dengan hukum yang ada. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.